MOS Kreatif, Idaman Guru dan Siswa

Saya terhenyak dan bersedih hati membaca berita di milis klub guru Indonesia yang tertulis seperti ini:

Terkait meninggalnya peserta MOS SMUN 16 Surabaya, muncul pernyataan yang mengusulkan agar Kepala Dinas Surabaya, Sahudi agar mundur dari jabatannya. Desakan tersebut muncul dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Surabaya yang dianggap lalai dalam menjalankan tugasnya. Seperti yang disampaikan anggota Komisi Pemerintahan asal Partai Keadilan Sejahtera, Ahmad Suyanto.

Kepada wartawan, Ahmad Suyanto dengan tegas mendesak agar Sahudi segera dilengserkan dari jabatanya kerena tidak serius dalam mengemban jabatan sebagai kepala dinas. “Sahudi harus mundur dari jabatannya, itu karena kelalaiannya sebagai kepala dinas pendidikan,” ujar Suyanto saat ditemui di kantor DPRD Surabaya, Jumat (17/07/2009) . Menurut Suyanto, pengawasan yang dilakukan Dinas Pendidikan Kota hanya sekedar formalitas. Sebelum penyelenggaraan MOS, Dinas Pendidikan memang telah menyebarkan edaran ke pihak sekolah untuk tidak melakukan kekerasan, baik fisik maupun psikis, pada siswa. Namun, edaran ini tidak disertai struktur dan mekanisme pengawasan yang jelas hingga ke tingkat sekolah. Lebih lanjut Suyanto menjelaskan, alasan desakan mundur Sahudi adalah sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada masyarakat. “Ini semacam reward dan punishmen, jika berprestasi patut diberikan penghargaan, dan sebaliknya jika gagal harus ada hukuman,” tegas Suyanto. Suyanto menilai Dinas Pendidikan Surabaya telah membuat beberapa kekacauan dengan tidak profesionalnya kinerja Diknas, mulai penerimaan siswa baru secara online, jebloknya prestasi pendidikan, penyampaian dana bantuan operasional pendidikan daerah dan kasus tidak terserapnya dana Rp 15 miliar untuk anak tak sekolah. Bopeng-bopeng wajah Dinas Pendidikan Surabaya itulah yang menimbulkan DPRD Surabaya akhirnya mendesak Sahudi untuk mundur dari jabatannya.

Membaca berita di milis klub guru di atas, hati dan pikiran saya bekerja, haruskah kepala dinas pendidikan bertanggungjawab terhadap MOS dan bukankah ini tanggungjawab penuh kepala sekolah?

MOS yang merupakan kepanjangan dari Masa Orientasi Siswa seharusnya membuat para siswa baru menjadi senang dan bangga memasuki sekolah barunya. Megapa mereka senang dan bangga? Karena di sekolah barunya mereka menemukan guru dan kakak senior yang menjadi idaman mereka. Memberikan mereka petunjuk bagaimana menjadi siswa yang berprestasi.

Di sekolah kami, Labschool Jakarta, MOS menjadi kegiatan favorit yang sangat menyenangkan siswa. Memang awalnya terkesan pemaksaan tetapi ketika komunikasi itu dibuka oleh pihak sekolah kepada orang tua siswa, orang tua siswa pun tak khawatir karena ada jaminan dari pihak sekolah bahwa acara yang dilaksanakan ini adalah untuk mendidik kemandirian siswa. Sesuatu yang awalnya pemaksaan menjadi kebiasaan karena dilakukan dari motivasi internal yang tinggi.

Contohnya para siswa diminta hadir ke sekolah lebih pagi dari jadwal sekolah untuk berolah raga pagi terlebih dahulu, melaksanakan apel pagi, dan mendengarkan materi school culture dari kakak kelas dan guru. Hal ini dilakukan agar siswa baru lebih mengenal sekolahnya, dengan wawasan wiyata mandala yang terkenal itu. Ada lagi pemberian motivasi dengan mengundang motivator dari luar dengan materi bagaimana bagaimana menjadi siswa berprestasi di sekolah. Semua acara dibuat secara kreatif sehingga siswa baru senang melakukannya. Kalaupun ada yang kurang enjoy, hal itu bukan karena acaranya yang tidak kreatif tetapi, keadaan fisik siswa yang kurang baik pada saat MOS membuat siswa baru tersebut. kurang bisa menikmati acara dengan baik. Biasanya pihak panitia memberi tanda untuk siswa yang sakit. Oleh karena itu, kami selalu memantau siswa yang kondisinya kurang baik agar tetap di ruang kesehatan dan mempersilahkan mereka mengikuti acara bila mereka merasa lebih fit setelah diperiksa oleh tim kesehatan yang dibentuk oleh anak-anak sendiri dengan pengawasan dari guru dan dokter sekolah.

Sebenarnya kalau hal ini dilakukan oleh panitia MOS SMAN 16 Surabaya, saya yakin tak ada siswa yang sampai kehilangan nyawa, dan tak perlu sampai ada protes yang menginginkan kepala sekolah atau kepala dinas setempat diganti. Bagi saya yang berprofesi sebgagai pendidik dan telah beberapa kali menjadi ketua MOS di sekolah, guru dan siswa yang bernaung di organisasi OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) harus kreatif dalam membuat format acara MOS yang kreatif dan menyenangkan siswa baru. Anda dapat melihat laporan kegiatan mos di sekolah saya di blog pribadi saya.

Dalam MOS ada hal yang penting yang harus diajarkan pada siswa baru. Selain kemandirian, ada pula pelajaran kebersamaan, yang harus ditekankan kepada mereka agar memiliki jiwa sosial yang  tinggi. Tidak egois dan harus menyadari bahwa hidup harus saling berbagi. Nilai-nilai yang sifatnya religius pun harus dilakukan seperti sholat berjamaah, dan tadarus atau kebaktian bagi siswa nasrani. Unsur kreativitas tak lupa pula diberikan agar muncul ide-ide kreatif dari para siswa baru.

Di sekolah kami, biasanya kegiatan MOS ditutup dengan kegiatan pentas seni yang menampilkan kebolehan para siswa baru di bidang seni, dan besoknya pihak sekolah menyelenggarakan apa yang kami sebut “EXPO EKSKUL”. Kegiatan yang menggiring siswa untuk menyalurkan minat dan bakatnya masing-masing.

Oleh karena, Bila Mos yang dilakukan oleh sekolah kreatif, maka siswa baru akan merasakan kenyamanan berada di sekolahnya yang baru. Bertemu guru idola, dan mendapatkan kakak senior yang baik hati. Tak ada kecemasan berada di sekolah barunya, dan mereka akan dengan bangga mengatakan, :”INILAH SEKOLAH BARUKU YANG AKU BANGGAKAN”.

Salam Blogger Kompasiana

Omjay

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s